
OPINI - OLEH: DIREKTUR EKSEKUTIF (IPI) INDEKS POLITICA INDONESIA, SUWADI IDRIS AMIR
Beberapa
pendapat mengatakan bahwa penelitian itu
pada umumnya adalah sebuah aktifitas yang
sangat terhormat, mahal, elite, bergengsi, dan penuh petualangan.
Pernyataan ini beralasan karena biaya penelitian biasanya cukup besar,
cukup eksklusif, dan penuh tantangan. Namun tidak hanya mahal,
penelitian juga dapat amat murah; dan murah sekali diukur dari
pemanfaatan penelitian baik dalam arti murni (pure) maupun dalam arti
terapan (applied). banyak proyek penelitann yang dilakukan dengan
biaya ratusan juta rupiah, bahkan ada penelitian yang dilakukan dalam
waktu yang sangat lama. Namun juga tidak sedikit penelitian yang
dilakukan dengan biaya yang murah dalam batas waktu yang relatif pendek.
Memang
waktu merupakan kebutuhan tersendiri dalam penelitian, hal ini tidak
lain karena peneliti membutuhkan waktu yang
cukup untuk menyelesaikan penelitiannya dengan seksama. Penelitian
tidak dapat dilakukan hanya dalam waktu satu sampai dua minggu, tetapi
membutuhkan waktu relatif lebih lama dari itu. Bahkan bertahun-tahun,
berpuluh-puluh tahun, tergantung permasalahan yang hendak diteliti.
Bahkan waktu juga menentukan rasionalisasi penelitian tertentu dengan
metode permasalahan tertentu pula. Akumulasi uang dan waktu dalam setiap
penelitian selalu urgen untuk menghasilkan karya karya penelitian yang
andal, selain itu keandalan hasil penelitian juga dihasilkan oleh
peneliti yang memilik dedikasi karena peneliti adalah intrumen penting
dalam penelitian yang menguasai seluruh proses dan kompenen penelitian.
Dedikasi dan sikap ilmiah peneliti itulah yang mengantarkannya kepada
ciri khas seorang ilmuan. Sikap-sikap dan dedikasi yang dibutuhkan
tersebut adalah antara lain:
a. Objektif, factual, yaitu peneliti harus memiliki sikap objektif dan peneliti memulai pembicaraanya berdasarkan fakta.
b.
Open, fair, responsible, yaitu peneliti harus bersikap terbuka
terhadap barbagai saran, kritik dan perbaikan dari berbagai
kalangan.Begitupula peliti harus bersikap wajar, jujur, dalam
pekerjaannya, sarta dapat mempertanggung jawabkan semua pekerjaannya
secara ilmiah.
c. Curious; Wanting to know, yaitu peneliti harus
memiliki sikap ingin tahu terutama kepada apa yang diteliti dan
senantiasa haus akan pengetahuan-pengetahuan baru. Berarti bahwa
peneliti adalah orang-orang yang peka terhadap informasi dan data.
d. Invective always,
yaitu peneliti harus memiliki daya cipta, kreatif dan senang terhadap inovasi.
selanjutnya peneliti sebagai seorang ilmuwan , juga dituntut memiliki kemampuan lain seperti:
a.
Think, critically, systematically, yaitu peneliti adalah orang yang
memiliki wawasan, memiliki kemampuan kritik, dan dapat berpikir
sistematik.
b. Able to create, innovate, yaitu peneliti harus
memiliki kemampuan mencipta, nkarena harus selalu menemukan atau membuat
penemuan-penemuan baru.
c. Communicate affectivity, yaitu peneliti
harus memiliki kemampuan untuk berkomunikasi dan mempengaruhi pihak lain
dengan komunikasi itu.
d. Able to identifty and formula problem clearly, yaitu mampu mengenal dan merumuskan masalah dengan jelas.
d.
View a problem in wider context, yaitu peneliti mampu melihat suatu
masalah dalam konteks yang luas karena suatu masalah biasanya tidak
berdiri sendiri.
Selain sikap, dedikasi, dan kemampuan tersebut diatas, peneliti juga
dituntut menguasai cabang ilmu pengetahuan yang ada hubungannya dengan
permasalahan yang diteliti.
Kebutuhan ini dirasakan terutama bagi
peneliti yang bekerja pada lembaga-lembaga penelitian dengan melayani
kebutuhan peneliti dari berbagai kalangan atau disiplin ilmu. Kebutuhan
sikap dedikasi sebagai peneliti, tidak hanya dengan memenuhi beberapa
kebutuhan diatas, karna masih ada kebutuhan lain yang semestinya
diperhatikan dalam penelitian secara konkret aspek-aspek kebutuhan lain
tersebut adalah sebagai berikut:
1. Sikap, pengetahuan, serta
pandangan peneliti terhadap lingkungan masyarakat, para informan,
responden, dan warga masyarakat lainnya.
2. Memerhatikan sikap dan
pandangan informan, responden, serta warga masyarakat lain terhadap diri
peneliti termasuk sikap dan pandangan peneliti asing dan peneliti
berjanis kelamin lain.
3. Memerhatikan masalah
keuntungan dan kesulitan penelitian tunggal jika dibandingkan dengan penelitian bersama dalam satu tim.
4. Memerhatikan masalah pengembangan rapor yang wajar dalam wawancara serta kemampuan peneliti untuk mengenal dirinya.
5. Memerhatikan sikap para pegawai di pusat maupun di daerah terhadap peneliti dan proyek penelitian.
6.
Memerhatikan masalah penyesuaian pandangan etik dari pada informan,
responden, dan warga masyarakat, dengan pandangan etik dari peneliti
terhadap topik persoalan yang sedang direliti.
Sikap dan
dedikasi peneliti lainnya yang sering dilupakan orang, yaitu faktor
pribadi peneliti dan interes pribadi, kedua hal ini berkaita dengan
kredibilitas peneliti itu sendiri.
Faktor pribadi menyangkut
sifat-sifat hereditas dan fiskal peneliti. Ada peneliti yang secara
alamiah cerdas, tanggap, sensitif, memilika ketahatan tubuh yang tinggi
yang tinggi, dan sebagainya namunbagi peneliti lain, hal itu tidak
dimilikinya.
Faktor pribadi ini secara tidak langsung memengaruhi hasil-hasil
penelitian. Sehingga bisa jadi dua karya penelitian yang sama objeknya,
namun berbeda hasil penelitiannya karena peneliti dan kredibilitasnya
berbeda pula. Jadi ketika interview, wawancara, ataupun observasi,
umpamanya, peneliti yang sensitif tentu akan memperoleh data yang banyak
dan lengkap bila dibandingkan dengan peneliti yang tingkat sensitivitas
sosialnya rendah dan tidak responsif terhadap metode-metode tersebut.
Hal
yang sama juga terjadi pada interes pribadi dalam setiap penelitian.
Interes pribadi biasanya banyak mendominasi setiap pekerjaan orang,
termasuk pula penelitian. Namun di dalam penelitian, interes pribadi
akan mempengaruhi objektivitas peneliti saat menilai hasil kerjanya
sendiri. Untuk itu semua penelitian senantiasa membutuhkan
pribadi-pribadi peneliti yang loyal dan berdedikasi terhadap ilmu
pengatahuan, dalam arti bahwa seseorang tidak akan melakukan
penelitian jika tidak bermaksud untuk memperkaya khazanah ilmu
pengetahuan, bukan sekedar untuk memperkaya meteri dan untuk kepentingan
uang, sehingga menyeret menjadi seorang tukang dan pekerja kasar dalam
dunia ilmu pengetahuan .''(*)